Tampilkan postingan dengan label Seputar LQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar LQ. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juli 2017

METODE TAHFIDZ AL-QUR'AN UNTUK ANAK SD/MI




Menjadi guru al-Quran bukanlah hal yang mudah, karena selain kita dituntut untuk memperbaiki kualitas bacaan dan hafalan santri, kita juga dituntut untuk memberikan contoh pada mereka. Jangan sampai kita memberi tugas hafalan atau murojaah al-Quran ke murid namun kita sendiri tidak melaksanakan atau melarang sesuatu tapi kita menjadi orang pertama yang melanggarnya.


Setelah poin di atas sudah diamalkan maka kita bisa langsung menerapkan metode tahfidz Al-Quran untuk anak TK, TPA dan SD. Bagaimana metodenya?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, sebaiknya baca dulu artikel sebelumnya, cara mengajarkan anak dengan metode yang tepat untuk anak usia dini, sebab artikel ini hanyalah pelengkap dari pembahasan tersebut.

Macam-Macam Metode Tahfid

 
Saat guru mengajarkan al-Quran pada anak kadang dia harus mencari cara yang sesuai dan cocok untuk muridnya. Misalnya dia harus berhalaqoh, menghafal bersama dan lain sebagainya. Nah, dari situlah muncul metode-metode yang kemudian metode tersebut diistilahi atau dinamai. Salah satu nama metode-metode yang saya tahu adalah, metode taqdim, metode mudhaharah, metode takrir, metode quesioner dan metode baidhawiy serta metode mutabaah.

Masyaallah, ternyata ada banyak sekali metode pembelajaran hafalan al-Quran. Bagi saya, istilah-istilah seperti ini malah membuat para guru jadi bingung, sehingga ia tidak konsisten dalam menjalankan metode pengajaran al-Quran untuk anak. Maka tidaklah heran apabila ada pertanyaan, "metode mana yang paling baik? Mana yang terbaik di antara metode-metode tahfidz di atas?"

Silahkan antum buang dulu kebingungan-kebingungan di atas, karena sebenarnya mengajarkan hafalan al-Quran untuk anak-anak di sekolah negri SD, atau lembaga Islam seperti SDIT tidak lah serumit yang kita bayangkan. Maka di sini saya akan memberikan tips dan cara yang cocok dan mudah untuk anak, bahkan balita.

Metode yang akan saya bagikan ini sudah dipraktekan oleh saya di Kuttab al-Fatih, bahkan semua guru di sana juga memakainya sebab seluruh guru quran sudah diseragamkan untuk menggunakan satu metode, entah itu metode Tahsin quran maupun Hafalan. Alhamdulillah, dengan itu kualitas bacaan dan hafalan anak di sana sungguh luar biasa (penilaian pribadi), bahkan sudah mengalahkan kualitas bacaan saya dulu ketika lulus SMA di pesantren. Wah jujur banget.

Hanya Satu Metode Tahfidz untuk Anak SD, yaitu Metode Kemampuan

Namanya aneh kan? Ini memang aneh, jadi harap maklum. Karena sebenarnya penamaan metode kemampuan ini hanya akal-akalan saya saja. :). Untuk nama aslinya malah kurang tau. atau mungkin belum ada namanya.

Maksud metode kemampuan adalah, sebelum sang guru mengajarkan hafalan al-Quran anak, dia harus mengukur kemampuan si anak terlebih dahulu. Apabila anak belum mampu maka kita akan menggunakan metode takrir, namun, jika sudah mampu dari segi kualitas bacaan, baik tajwid maupun makhraj maka bisa menggunakan Metode Mutabaah (Kalau kaya gini caranya, sama saja 2 metode). Bagaimana cara mengukurnya? Pertanyaan ini sangat penting sekali.

Cara Mengukur si Anak, Menggunakan Metode Takrir Karena Belum Mampu 


Seperti apa sih, anak yang belum mampu itu? Dia adalah anak yang belum bagus kualitas bacaannya baik dari segi makharijul huruf, mad (panjang pendek), ghunnah dan kelancaran. Biasanya anak ini belum bisa membaca al-Quran, atau dia mengaku sudah bisa baca namun ketika dites si anak belum bisa membedakan mana yang (ذ) dan (ز) kemudian (ها) dengan (ح) atau suka terbalik-balik, atau panjang pendeknya salah-salah dan masih banyak lagi yang lain.

Yang lebih penting, umur bukanlah peran utama dalam standar kemampuan, karena ada juga yang masuk kelas 4 SD namun kemampuan bacaannya kurang. Maka dalam hal ini membutuhkan guru yang benar-benar paham ilmu tajwid dan tahsin. Oh maaf, bukan hanya paham ilmunya tapi bisa juga mempraktekannya. Apabila sudah diketahui ukurannya, maka bisa langsung menggunakan metode takrir atau baghdadiyah.

Apa Itu Metode Takrir?

Pengertian metode takrir adalah: guru membacakan ayat yang mau dihafal di depan anak-anak, dengan makhraj dan tajwid yang sesuai, bagus dan mantap. Kemudian setelah itu anak disuruh menirukan bacaan gurunya tersebut sampai anak yang di dalam kelas tersebut hafal semua dengan bacaan yang bagus, baik sisi ghunnah, mad dan makhraj.

Kesalahan para guru biasanya terjadi ketika dia mengajar kelas yang isinya murid baru semua. Lalu ditanya oleh ustadznya, "Nak, bisa baca Quran belum?" lalu muridnya menjawab, "Sudah tadz, saya ngaji di TPA sudah sampai surat an-Naba" kemudian gurunya langsung menilai bahwa dia mampu, padahal belum mengujinya.

Kita harus tahu bahwa sebelum dia masuk ke lembaga kita, para murid baru memiliki riwayat hidup yang tidak sama (dalam masalah ngaji). Misalnya si A belajar ngaji di TPA situ, dan si B belajar ngaji di TPA sini. Nah, kita juga tidak tahu kemampuan guru-guru sebelumnya.

Maka dari itu, kami sarankan kepada setiap lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pembelajaran tahfidz al-Quran, harus menyeragamkan bacaan dan tahsin para guru dan menyeragamkan standar kualitas bacaan dan hafalan para guru. Supaya jika suatu saat guru tersebut ditukar dengan kelas lain, maka standar bacaannya akan sama. Lalu, bagaimana cara menyeragamkannya? Insyaallah mudah.

Saran berikutnya adalah, sebaiknya masalah makharijul huruf si anak harus diselesaikan di tahun pertama atau ke dua. Karena, lebih baik selesai di awal, dan setelah itu anak bisa fokus menghafal dengan kualitas hafalan yang bagus daripada di tahun pertama kita mengejar target banyaknya hafalan namun makhraj anak-anak masih jelek, sehingga kualitas hafalannya juga jelek, bahkan bisa di bawa sampai dewasa umur 25 tahun. Hal ini sama saja 25 tahun mengurus makharijul huruf??!! Pilih 1/2 tahun atau 25 tahun?

Jika Sudah Mampu maka Sudah Bisa Menggunakan Metode Mutaba'ah.

Apa Itu Metode Mutabaah?

Metode mutabaah adalah satu dari macam-macam metode tahfidz al-Quran anak yang kita kenal. cara kerjanya adalah:

Anak diperintah menghafal mandiri, sebab kita sudah percaya pada si anak atas kemampuan bacaannya. Namun, menghafalnya bukan di sekolah atau halaqoh, tapi di rumah. Kemudian besoknya si anak menyetorkan hafalan barunya kepada sang guru. Setelah si anak menyelesaikan setorannya, ustadznya langsung mencatat jumlah ayat, dan hasil hafalannya di buku mutaba'ah.

Metode ini membutuhkan ketegasan sang guru, bagaimana si anak nanti melaksanakan amanahnya. Dan juga ketegasan dalam membenarkan makharijul huruf nya saat menyimak

Selasa, 25 Juli 2017

SANTRI, NGOPI, NGAJI & KITAB KUNING

Berbicara soal santri tidak akan ada habisnya, pasalnya santri adalah mahkhluk yang istimewa yang diberikan keunikan tersendiri oleh Allah dibandingkan makhluk yang lain. Bagaimana tidak, semakin lama nyantri seseorang tidaklah menjadikan seseorang itu sombong akan tetapi malah menjadi semakin tawadhu’ bisa di ibaratkan bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, bukan semakin berisi malah semakin jadi.
            Hal yang palik unik bagi seorang santri adalah ketika diberi cobaan berupa Gudigen atau penyakit gatal gatal, banyak santri yang menafsirkan hal itu adalah salah satu bentuk cobaan santri yang lagi bertransisi dari tidak betah menjadi betah dipondok, karena ketika seorang santri menyerah maka jalan yang dipilih adalah pulang kerumah, uniknya ketika santri pulang penyakit itu justru sembuh tetapi ketika kembali ke pondok justru malah penyakit itu kembali seperti semula.
            Banyak orang yang pesimis terhadap kontribusi santri bagi masyarakat ketika nanti terjun ke masyarakat, terutama orang tua yang tidak pernah mengenal dunia pesantren atau tidak tahu seluk beluk sebuah pesantren, mereka menganggap seseorang dipondokan nantinya mau menjadi apa? Dan anak istri mau dikasih makan apa? Oleh karena itu orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anak dengan pendidikan yang setinggi-tingginya harapanya agar nanti anak dapat pekerjaan yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan seseorang yang hanya berstatus sebagai santri.
            Padahal sejatinya ketika seseorang dipondokan atau hidup di pesantren, maka secara tidak langsung meraka telah bereinkarnasi menjadi manusia yang lebih baik dihadapan tuhan maupun sesamanya. Santri akan diajarkan bagaimana caranya berbuat baik terhadap sesamanya, Akhlak dan sopan santun kepada yang lebih tua maupun yang seumuran denganya, selain itu santri juga diajarkan cara berbisnis, berwirausaha dan belajar mandiri.
            Banyak hal yang dibebankan kepada santri selain ngaji, berwirausaha maupun belajar mandiri, bahkan ada sebuah pepatah mengatakan “santri itu Ngaji, Ngabdi, Rabi” semua itu harus dilakukan dengan hati yang ikhlas dan senang hati, karena santrilah yang akan menjadi garda terdepan bangsa ini, santrilah yang akan menjadikan Indonesia ini sebagai negara kesatuan yang utuh dan mendapatkan maghfiroh Allah ta’ala, menjadikan bumi pertiwi ini sebagai Negara yang baldatun thayyibatun warobbun ghofur yaitu dengan cara membaca atau Istiqomah melantunkan doa Mujahadah setiap Maghrib dan ba’da subuh untuk kedamaian negara tercinta kita.
            Kitab kuning adalah hal yang wajib dalam Pesantren Salaf seperti halnya Pondok pesantren Al – Luqmaniyyah Yogyakarta, Kitab kuning merupakan sebuah sistem pengajian atau kajian untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. denganya santri diajak untuk menjadi teman yang selalu sabar meghadapinya, bahkan banyak hal harus dilalui untuk bisa menjadi teman yang   akrab dan menjadi teman yang menyenangkan, seorang santri harus melalui banyak cara dan banyak menghabiskan waktu untuk bisa membaca kitab kuning, yaitu diawali dengan menghafal kitab kitab dasar seperti jurumiyyah Jawan, Jurumiyyah, Imrithy, dan terakhir kitab Alfiyyah Ibnu Malik. Semua itu adalah proses yang sangat panjang, bahkan senang ataupun sedih banyak dilalui bersamanya.
            Menjalani hidup dipesantren mulai  dari Senang dan sedih bersama kitab kuning tidaklah terlepas dari teman sejolinya yaitu “Rokok dan Kopi” hal itu adalah kenikmatan yang tiada tara, karena dengan demikian banyak inspirasi yang tiba tiba muncul dan menjadi penyemangat dalam mempelajari kitab kuning, kalau pepatah mengatakan Ngaji tanpa kopi bagaikan Teh tanpa gula, terasa namun tak manis.

            

Jumat, 13 Mei 2016

PROFIL PENGASUH PONDOK PESANTREN AL-LUQMANIYYAH

KH Najib Salimi
ABAH Najib Mamba’ul ‘Ulum adalah pengasuh pondok pesantren Al-Luqmaniyyah yang lahir pada tanggal 7 januari 1971, dari pasangan Romo KH Salimin dan Ibu Nyai Bunyanah. Semenjak kecil beliau telah dididik keras tentang agama oleh Romo KH. Salimi. Beliau mengenyam pendidikan formal hanya sampai SD, bahkan ijazahnya pun tidak diambil.
Setelah lulus SD Abah Najib Mamba’ul ‘Ulum berangkat nyantri ke Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo. Pada waktu itu Pondok Pesantren diasuh oleh Romo KH. Abdurrahman Chudori setelah wafatnya KH. Chudori yang merupakan pendiri Pondok Pesantren API Tegalrejo. Abah Najib Mamba’ul ‘Ulum Nyantri di Pondok Pesantren API Tegalrejo kurang lebih 15 tahun.
Semenjak nyantri di Tegalrejo beliau sudah gemar riyadloh (tirakat) diantaranya beliau mengamalkan puasa senin kamis, jama’ah, puasa daud, ngrowot dan lain sebagainya. Dan bahkan Abah Najib melaksanakan ngrowot sampai akhir hayat beliau. Beliau termasuk santri kinasih (kesayangan) Romo KH. Abdurrahman Chudori. Walaupun demikian beliau tidak lantas sekepenake dewe (seenaknya sendiri), beliau tetap tekun belajar dan mentaati peraturan-peratura Pondok Pesantrean yang berlaku.

Setelah boyong dari Pondok Pesantren API Tegalrejo, beliau mempersunting Ibu Nyai HJ. Siti Chamnah putri dari Romo KH. Chudlori Abdul Aziz Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Ngrukem Bantul Yogyakarta. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua orang putra yang ganteng-ganteng dan seorang putri yang cantik dan imut. Putra pertama beliau diberi nama Gus Muhammad Abdullah Falah, Putra yang kedua diberinama Gus Muhammad Alwi Masduq dan seorang putrinya yang diberi nama Ning ‘Abdah Iqtada.

Abah Najib diberi amanah oleh ayahanda beliau yaitu Romo KH. Salimi untuk mengasuh sebuah Pondok Pesantren yang terletak ditengah kota Yogyakarta yaitu di Jl. Babaran Gg. Cemani 759 P/UH V Kalangan Umbulharjo 55161. Pondok Pesantren Itu diberi nama Al-Luqmaniyyah karena dinisbatkan pada muasisnya (pendiri) yang bernama Bpk H. Luqman Jamal Hasibuan. Bpk H. Luqman Jamal Hasibuan mendirikan Pondok Pesantren tersebut atas rasa sukur yang telah diberikan oleh Allah SWT, berupa kesembuhan dari penyakit yang diderita beliau melalui lantaran Romo KH. Salimi, karena telah berbagai macam pengobatan telah beliau lakukan  namun tidak kunjung sembuh. Bpk H. Luqman Jamal Hasibuan memasrahkan Pondok Pesantren tersebut kepada Romo KH. Salimi untuk menjadi pengasuh, namun karea beliau telah memiliki Pondok Pesantren sendiri yaitu Pondok Pesantren As-Salimiyyah yang terletak di Cambahan Mlangi Sleman Yogyakarta, maka beliau mengamanahkan Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah tersebut kepada Abah Najib Mamba’ul ‘Ulum untuk menjadi pengasuh. Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah diresmikan oleh Romo KH. Salimi pada tanggal 9 Februari 2000.

Dalam mengajar, beliau memilki metode yang berbeda disetiap tingkatan santrinya. Awalnya Basic Pondok Pesantre Al-Luqmaniyyah itu tentang fiqih tetapi ada kendala tentang mata pelajaran alat (nahwu), lalu akhirnya nahwu yang lebih ditekankan dan menjadi basic Pesantren sampi saat ini. Metode beliau yang dipakai setiap pelajaran berbeda-beda dari I’dadi sampai Tahtim. Metode yang digunakan dalam kelas alfiyah yaitu semua santri wajib belajar, presentasi ( bagi yang tidak presentasi juga wajib belajar karena akan ditunjk) dan runtut, sedangkan yang selain kelas alfiyah yaitu dengan diberi PR dan metodenya tidak runtut. Dapat diambil pelajaran bahwa beliau sangat memperhatikan proses belajar santri-santrinya.

Selain belajar, Abah Najib Juga mendidik para santri agar melakukan riyadloh (tirakat). Beliau menyuruh antri yang baru masuk pada saat sowan untuk tirakat seperti puasa senin kamis, membaca Al-Qur’an satu hari satu jus, ngrowot, ziarah, jama’ah dan lain sebagainya sesuai kemampuan para santri. Hal ini beliau lakukan agar kelak para santri mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah. Meskipun Pondok Al-Luqmaniyyah menyuruh santrinya tirakat tetapi proses pendidikan juga diperhatikan oleh beliau. Beliau selalu mengabsen para santri satu-persatu, sehingga antara tirakat dan pendidikan sejalan. Untuk beliau yang penting proses belajarnya.

Ciri khas dari Beliau Abah Naji adalah menganggap ngaji itu penting, tidak mudah meninggalkan mengajar didalam kelas. Apabila tidak bisa mengajar, beliau pasti sudah menyiapkan badal (pengganti) untuk mengajar. Untuk memberi hukuman kepada para santri, setidaknya beliau memarahi kalau tidak ngaji, dan disesuaikan tingkat pelanggaran santri, semisal ngantuk pada saat jam berlangsungnya pelajaran biasasnya akan dilempar dengan penghapus atau sepidol.

Dalam mendidik santrinya beliau menyuruh para santri untuk riyadloh, dapat menempatkan pada kehidupan sosial, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Beliau sangat faham dengan para santrinya meskipun sntri tidak mengetahuinya. Kepekaan batiniah beliau lebih kuat daripada lahiriahnya. Beliau ingi mencetak santri yang tahan banting supaya dalam masyarakat dapat menempatkan dirinya dan tidak mudah terpengaruh. Beliau juga tidak menginginkan kesuksesan santrinya itu didapat secara instan. Berbeda lagi ketika beliau mendidik putra-putrinya dan masyarakat. Ketika mendidik putra putrinya kadang keras, kadang dengan sangat kasih sayang (menuruti apa yang mereka inginkan kemudian diberi nasihat). Tuntutan mengaji tetap ada tetapi tidak sekeras kepada santrinya.

Sedangkan dalam masyarakat, beliau memberikan solusi dan ikut andil didalamnya. Bagi meeka yang sedng punya masalah, seperti ketika ada orang yang bertamu dan mengungkapkan kalu dia tidak mempunyai pekerjaan lalu beliau memberi modal kepada tamu tersebut. Beliau memberi kasih sayang yang lebih dan yang penting tamu terayomi.

Ada banyak riyadloh yang Abah Najib aksanakan sampai akhir hayat beliau, setidaknya ada lima  bentuk riyadloh yang terlihat secara kasat mata. Pertama istiqomah beliau dalam segala hal ibadah. Dijelaskan bahwa Abah Najib tudak pernah meninggalkan majelis malam selasa meskipun dalam keadaan yang bagaimanapun. Beliau rela pulang hanya satu hari dari Kalimantan dalam rangka muktamar NU seluruh Indonesia dan kembali kesana lagi demi menghadiri rutinan majelis pengajian malam selasa.

Riyadloh kedua yang beliau lakukan ialah setiap malam beliau tidak pernah sare(tidur) sampa fajar tiba. Beliau selalu menerima tamu untuk mengobrol dan diskusi hingga fajar. Ketiga beliau selalu menghormati dan memuliyakan tamu yang berkunjung pada beliau tanpa membeda-bedakannya, bahkan setiap tamu pasti disuruh untuk dahar (makan). Keempat beliau selalu ziarah kemakam-makam Aulia’ pada hari-hari tertentu dan mengajak sebagian jemaah untuk ikut beliau. Dan yang terakhir Abah Najib masih ngrowot (tidak makan nasi) hingga akhir hayat beliau.

Ada empat wasiat yang beliau amanahkan sebelum beliau kembali kerahmat Allah. Pertama penerus Pondok Pesantran Al-Luqmaniyyah adalah putra pertama beliau yaitu Gus Muhammad Abdullah Falah dibantu oleh keluarga. Pada waktu itu Gus Muhammad Abdullah Falah baru berusia sebelas tahun (kelas 5 SD). Karena belum memungkinkan untuk menjadi pengasuh, maka pengasuh Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah sekarang dipegang oleh Ibu Nyai HJ. Chamnah Najib dibantu oleh keluarga.

Kedua, teruskan dan istiqomahkan majelis pengajian jamaah malam selasa. Sekarang pengajian malam selasa tersebut dipimpin oleh Kyai Nasiin dan Kyai Nur Charis. Beliau berdua merupakan kakak dan adik dari Al-Marhum Al-Maghfurllah KH.Najib Mamba’ul ‘Ulum alhamdulillah juga dibantu oleh Romo KH. Chudori Abdu Aziz yang merupakan moro sepah beliau (mertua). Majelis pengajian malem selasa tersebut alhamdulillah masih diistiqomahkan sampai sekarang dan insyallah akan terus diistiqomahkan seperti pesan wasiat beliau.

Wasiat yang ketiga ialah santri-santri Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah harus tetap meneruskan kegiatan Pondok Pesantren seperti biasa. Dan wasiat yang terakhir beliau teruskan dan istiqomahkan kegiatan rutinan maupun awrod (wirid-wirid) yang sudah dirintis dan dijalankan. Itulah empat wasiat yang sampaikan beliau pada saat beliau dirawat di RS PKU Muhammadiyyah Yogyakarta.

Abah Najib Mamba’ul ‘Ulum mengalami kecelakaan Dikabupaten Kudus pada saat ziarah Waliyaullah ke Jawa Tengah. Beliau dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyyah Yogyakarta selama empat hari. Dan beliau kembali kerahmatallah setelah melaksanakan operasi pada mustoko (kepala) beliau. Abah Najib Mamba’uk ‘Ulum wafat pada tanzulqo’dah 1432 H. Semua keluarga, santri, jamaah dan tamu tidak enyangka akan secepat itu akan dipangil Allah karena setelah dioperasi beliau terlihat segar bugar dan sehat, bahkan beliau sampai menghabiskan satu setengah buah apel dan beliau juga meminta rokok. Namun karena ruangan ber-AC maka beliau urungkan niat beliau untuk merokok. Dan beliau juga sempat memeluk Gus Falah dan Gus Masduq disisi kanan dn sisi kiri beliau.

Beliau Al-Marhum Al-Maghfurllah Abah Najib Mamba’ul ‘Ulum dimakamkan dikomplek pemakaman Cambahan Mlangi Kabupaten Sleman Yogyakarta. Semoga beliau diberi tempat yang paling mulia sisisi Allah Subhanahu WA Ta’ala dan semoga kami semua warga Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah diberi kekuatan dan keistiqomahan oleh Allah dalam melaksanakan wasiat beliau Abah Najib Mamba’ul ‘Ulum . Amien-Amien Ya Robbal ’Alamin

Rabu, 11 Mei 2016

PROFIL PONPES AL-LUQMANIYYAH YOGYAKARTA

Pondok Pesantren Salaf Putra Putri Al-Luqmaniyyah

Alamat : Jalan Babaran Gg. Cemani UH V/759 RT/RW: 49/04 Yogyakarta 55161

Telepon : (0274) 377838

 

Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah adalah salah satu pondok pesantren yang terdapat di kota Yogyakarta, tepatnya kurang lebih 5 km arah timur kraton Ngayogyakarta. Pondok ini menempati lokasi seluas 1.250 m2 RT/RW : 49/04 dukuh Kalangan, kelurahan Pandean, kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta. 

    Pondok ini mulai dibangun pada tahun 1998 atas prakarsa H. Luqman Jamal Hasibuan, seorang pengusaha kelahiran Sumatera, dan selesai akhir tahun 1999. Kemudian diresmikan pada tanggal 9 Februari 2000 oleh KH. Salimi, seorang tokoh agama asal Mlangi Sleman, dengan nama Pondok Pesantren Salaf Putra Putri Asrama Perguruan Islam (API) “Al-Luqmaniyyah”. Penamaan ini diambil dari nama pendiri, yaitu Bapak H. Luqman.

        Selanjutnya, PPLQ (sebutan lain untuk pondok pesantren Al-Luqmaniyyah) diasuh oleh KH. Najib Salimi, putera kedua dari KH. Salimi. Beliau adalah seorang ‘alim didikan KH. Abdurrahman Chudlori, pengasuh API Tegalrejo Magelang. Nama PPLQ dengan menyertakan nama API, yang singkatan dari Asrama Perguruan Islam merupakan adopsi dari pesantren API Tegalrejo itu. Memang diharapkan lulusan API mampu menjadi seorang yang menyebarkan ilmu agama (kata ‘guru’) ke umat muslim dan berdakwah Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

        KH. Najib Salimi wafat pada tanggal 02 Dzulqo’dah 1432 H / 30 September 2011. Setelah itu PPLQ diasuh oleh istri beliau yakni Ibu Nyai Hj. Siti Chamnah Najib dengan di bantu oleh sanak keluarga beliau. Beliau merupakan putri dari KH. Chudlori Abdul Aziz pengasuh PP Al-Anwar Ngrukem Bantul. Pengasuh PP Al-Luqmaniyyah sekarang, Ibu Nyai Hj. Siti Chamnah Najib

      Dari segi materi pendidikan, PPLQ memiliki karakter yang mirip dengan sistem yang dipakai di API Tegalrejo. Sebagai salah satu contoh, PPLQ sangat menganjurkan para santrinya untuk mujahadah dan riyadloh sebagai sarana untuk mempersiapkan diri menerima ilmu yang bermanfaat. Setiap setelah maghrib dan sebelum subuh selalu terdengar lantunan dzikir mujahadah di masjid PPLQ. 

    Selain itu, tiap setelah Ashar, Isya, dan Subuh santri diharuskan mengikuti kegiatan belajar di madrasah/kelas. Pelajaran yang dikaji mulai dari Al-Quran, tafsir, hadits, mustholah hadits, nahwu, shorof, balaghoh, fiqih, ushul fiqih, tarikh, dan juga ilmu tauhid. Mayoritas materi tersebut dikaji dengan menggunakan metode soroganbandongan, dan diskusi kitab-kitab kuning dengan teks bahasa Arab. Kitab-kitab yang dikaji cukup banyak, antara lain :

Syifaul Jinan, Aqidatul Awwam, Fathul Manan,

Khulashoh Nurul Yaqin, Jurumiyah, Imrithi,

Alfiyah, Ibnu Aqil, Arbain Nawawi,

Bulughul Marom, Tanqihul Qoul, Sahih Bukhari,

Taisir Mustholahul Hiadits, Safinatun Najah, Fathul Qorib,

 Fathul Muin, Kifayatul Awwam, Ummul Barahin,

 Ta’limul Muta’allim, Syarah Waroqot, Lubbul Ushul,

 Ushul Fiqih Abdul Wahhab Khallaf, Ihya Ulumiddin,

Jauharul Maknun dan lainnya.

        Selain belajar di Pesantren, sebagian besar santri juga mengikuti pendidikan formal di luar pesantren, dari mulai tingkat SMA hingga perguruan tinggi. Bahkan tidak sedikit santri yang telah menyelesaikan S1-nya di universitas-universitas di Yogyakarta. Mayoritas santri adalah Mahasiswa perguruan tinggi. Hal ini yang menjadi satu ciri pondok pesantren di kota Yogyakarta.

Selain asrama, PPLQ memiliki sejumlah gedung lain yaitu satu masjid, kantor, aula, dapur, 4 buah kelas, dan masing-masing satu bangunan untuk pengasuh dan pendiri pondok, serta sejumlah kamar mandi.

Setiap malam selasa, di PPLQ juga diadakan pengajian dan mujahadah yang diikuti oleh masyarakat luas. Selain itu, juga diadakan TPA bagi anak-anak di sekitar wilayah pondok setiap malam setelah maghrib

Jauh ke depan diharapkan PPLQ mampu berkembang lebih baik dalam segi fisik ataupun perannya bagi agama, masyarakat dan negara. 


Visi

Tampil Unggul dan Berkualitas dalam Ilmu Agama dan Amal Shaleh Bagi Peradaban 

Misi

  1. Mengkaji dan Mengembangkan ilmu agama yang berbasis pada kitab-kitab mu’tabarah
  2. Melaksanakan kegiatan sosial secara aktif baik yang bersifat internal maupun eksternal pondok
  3. Meningkatkan peran serta pondok dalam menjawab permasalahan yang terjadi di masyarakat
  4. Meningkatkan kepekaan pondok dalam berinteraksi dengan masyarakat dalam konteks sosial gotong royong
  5. Mengembangkan kreatifitas dan produktifitas pondok pesantren

Tujuan

  1. Menyiapkan santri yang mempunyai kemampuan keilmuan agama mendalam serta mampu mengembangkannya
  2. Menyiapkan santri sebagai kader bangsa yang tangguh, memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, berakhlak mulia, terampil, dan beramal shaleh
  3. Menyiapkan santri yang menghargai nilai-nilai ilmu agama dan kemanusiaan. 

    Selain sistem pendidikan berbasis salaf yang diterapkan oleh pondok pesantren Al-Luqmaniyah sebagai metode pembelajaran, pondok pesantren Al-Luqmaniyah juga berusaha mengembangkan pendidikan berbasis pengembangan kreativitas, intelektualitas, spiritualitas, dan bakat minat santri. Pendidikan ini bertujuan untuk mengembangkan dan memperluas khazanah santri dalam menggali ilmu pengetahuan. Sampai saat ini, pondok pesantren Al-Luqmaniyah telah berhasil membudidayakan kemampuan tersebut untuk kepentingan banyak pihak.

    Tentunya, pendidikan ini tidak serta merta menjadi tujuan utama dalam proses belajar mengajar di pondok pesantren Al-Luqmaniyah. Meskipun pendidikan ini termasuk bagian dari usaha pondok pesantren Al-Luqmaniyah dalam mengembangkan visi misinya, namun pendidikan salaf (pengajian kitab kuning) tetap menjadi prioritas utama bagi santri pondok pesantren Al-luqmaniyah.


        Sampai saat ini, pondok pesantren Al-Luqmaniyah terus berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan khazanah keilmuan, baik keilmuan agama maupun keilmuan umum.

Adapun ekstrakurikurikuler sebagai wadah apresiasi santri dan pengembangan potensi santri di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah antara lain :

  1. Grup Hadrah Ababil (Putra) dan Azkiya (Putri)
  2. Buletin Iqro’ (Putra) dan buletin An-Najwa (Putri)
  3. Qiroah
  4. Diskusi kubro, atau Bahtsul Masail
  5. HABAJUM IT Community (Komunitas IT PP. Al-Luqmaniyyah)
  6. Jam’iyyah Al-Qurra’ wa al- Huffadz (JQH)
  7. ELQI Ziarah Lovers
  8. LQ Football Club (LQ FC)
  9. Language Club
  10. Khitobah 

Pendidikan non formal yang dikembangkan oleh pondok pesantren Al-luqmaniyah ini, diharapkan mampu membentuk kekreativitasan santri dalam menelaah, mengkaji, meneliti, sekaligus melihat secara nyata apa yang sekarang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. 

Untuk menyukseskan tujuan tersebut, tentunya banyak kendala yang dihadapi oleh Pondok Pesantren Al-Luqmaniyah sendiri. Namun, dengan semangat dan tekad Li i’lai kalimatillah, pondok pesantren Al-Luqmaniyah akan terus berusaha dengan sebaik mungkin, demi tercapainya kondisi masyarakat yang islami, cerdas, dan berakhlak mulia.